173-175 : Crying Seven(th).

Daniel melirik ambar yg masih tertegun, lalu ia tertawa kecil “well, itu kalau gw jadi bayu, ya. Intinya sih gw nggak bakal menyerah. Because for me, you’re someone who worth a try”

Ambar merasakan sebuah perasaan menguar dari dalam dadanya. Naik secara perlahan dan menyumbat tenggorokannya hingga ia merasa tercekat. Matanya tiba-tiba panas dan air matanya terasa akan tumpah. Ambar buru-buru memalingkan kepalanya ke samping.

Benar. Terkadang, ambar berharap bayu tidak secepat itu menyerah dan melepasnya pergi. Ambar berharap bayu mau berjuang-sedikit saja-untuk mengejarnya. Menunjukkan kepadanya tidak ada satu hal pun yang perlu ditakutkan. Pada situasi tertentu ambar berharap bayu mau mempertahankan perasaan mereka. Tak peduli apapun hasil yang akan mereka dapatkan nantinya.

Namun, tidak demikian kejadiannya. Dengan cepat, bayu menuruti permintaannya-yang bertolak dari logika manusia-untuk hanya menjadi sekedar sahabat. Mengubur perasaan mereka berdua dalam-dalam. Kenyataan itu tentu membuat ambar merasa tidak cukup berharga untuk diperjuangkan. Dan, tak ada yang lebih menyakitkan ketimbang tidak dicintai, tapi tidak diperjuangkan.

Tanpa disadari, pipi ambar basah. Bulir-bulir air mata yang menetes hingga dagu kemudian disekanya dengan kasar.

 Ah, sialan. Kenapa hal yg paling ingin gue denger dari bayu, justru meluncur dari mulut si kuda nil ini? Pikir ambar.

Daniel melirik ambar yang duduk membelakanginya. Lelaki itu kemudian menjulurkan tangan untuk membesarkan volume suara radio. “Radionya gue kencengin, ya” ujar daniel ringan, sebelum kemudian melanjutkan kata-katanya dengan nada suara lebih rendah. “Jadi, kalau lo mau nangis, nggak apa-apa. Nangis aja. Gue nggak bisa dengar kok”

Dan, kenapa juga si kuda nil ini paham kalau gue paling benci nangis di depan orang lain? Ish!

Ambar merapatkan bibirnya kuat-kuat, mencegah isak tangisnya terdengar daniel. Sementara, air mata terus mengalir deras membasahi wajahnya. Sisa perjalanan kemudian mereka berdua habiskan dalam riuh rendah suara radio bercampur isak tangis ambar yang timbul tenggelam.

 

[YudithaHardini’s-gagasmedia]

-L-