Efektivitas tambahan kalsium pada lansia

EFEKTIVITAS PEMBERIAN TAMBAHAN KALSIUM PADA LANJUT USIA (Karisna Agustin, Elvira Rosana, Yuliza Ariani_Pengurus Inti MRC 2009)

Kalsium merupakan salah satu makromineral (mineral yang diperlukan oleh tubuh dengan jumlah >100 mg/hari) yang diperlukan oleh tubuh untuk menjalankan fungsi fisiologisnya. Secara fisiologis, kalsium berperan dalam pembentukan tulang dan gigi, pengaturan kontraksi otot, serta pengaturan potensial aksi dalam penghantaran impuls saraf. Kalsium sebagai unsur esensial sangat dibutuhkan oleh tubuh, namun tubuh tidak bisa menyintesisnya sendiri. Tubuh harus mendapatkan unsur ini dari diet (asupan makanan) untuk memenuhi ketersediaan dan kecukupan kadar normalnya di dalam tubuh. Besarnya asupan kalsium yang dianjurkan berdasarkan rekomendasi (RDA, Recommended Dietary Allowance) dari Food and Nutrition Board untuk pria dan wanita dewasa adalah sekitar 800-1200 mg, namun tentu saja secara spesifik kadar ini berbeda nilainya pada berbagai tingkat usia.

Pada masyarakat awam, berkembang paradigma bahwa kelompok masyarakat usia lanjut dianjurkan untuk menambah asupan kalsium sehari-hari. Hal ini dikaitkan dengan insidensi osteoporosis yang meningkat pada usia lanjut yang menurut pendapat kebanyakan masyarakat awam disebabkan oleh berkurangnya jumlah kalsium tulang. Secara ilmiah, perlu pembuktian yang komprehensif untuk bisa menerima ‘hipotesis’ paradigma awam tersebut. Benarkah orang-orang usia lanjut memang membutuhkan jumlah asupan kalsium yang lebih banyak dari jumlah asupan mereka sehari-hari? Lantas, berapakah nilai asupan kalsium yang direkomendasikan untuk para lansia ini? Pada usia lanjut, memang benar terjadi penurunan kadar kalsium tulang yang disebabkan oleh peningkatan proses perombakan tulang yang lebih aktif dibandingkan dengan proses pembentukan tulangnya sehingga kalsium sebagai unsur penyusun tulang lebih banyak dibebaskan daripada disimpan sebagai bahan cadangan untuk membentuk tulang. Secara keseluruhan, hal ini tidak menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium di dalam darah, kecuali peningkatan sesaat ketika kalsium dilepaskan ke darah karena pada dasarnya konsentrasi kalsium darah dan jaringan dijaga stabil melalui mekanisme pertukaran terus-menerus antara kalsium darah dan kalsium tulang serta mekanisme eksresi yang segera harus dilakukan oleh ginjal untuk mengeluarkan kelebihan kalsium di darah tersebut, namun sebuah referensi menyebutkan bahwa pada lansia juga terjadi penurunan kecepatan dan kapasitas pengendapan kalsium dari darah ke tulang yang disebabkan oleh berbagai faktor terkait penuaan yang menyebabkan penurunan fungsi fisiologis, termasuk kecepatan untuk mengabsorbsi dan mengendapkan kalsium dari darah ke tulang. Beranjak dari teori ini, dapat disimpulkan sementara bahwa peningkatan asupan kalsium pada lansia yang diharapkan mampu meningkatkan kadar kalsium tulang akan kecil kemungkinannya untuk tercapai. Ini disebabkan pada lansia banyak terjadi penurunan jumlah hormon dan faktor-faktor pertumbuhan yang berhubungan dengan penurunan fungsi anabolik protein yang pada akhirnya matriks tulang tidak dapat diendapkan dengan baik. Secara lebih sederhana, ini berarti bahwa memang fungsi tulang dalam mengendapkan kalsium yang sudah menurun sehingga sebanyak apapun asupan kalsium yang diberikan tidak akan memberikan manfaat bagi peningkatan kadar kalsium tulang. Akan tetapi, pembuktian secara lebih pasti mengenai hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut.

Menurut Food and Drug Board, RDA untuk asupan kalsium orang yang berusia lebih dari 51 tahun adalah 800 mg/hari, justru lebih rendah daripada asupan kalsium sehari-hari orang dewasa normal. Bila asupan ini melebihi nilai normal yang dianjurkan, selanjutnya bisa saja memunculkan pertanyaan klinis baru, yaitu apa efeknya terhadap fisiologis fungsional tubuh? Apakah meningkatkan atau justru menurunkan hingga membahayakan?. Sehubungan dengan hal ini, referensi lain menyebutkan bahwa asupan kalsium berlebih (>2000 mg/hari) meningkatkan risiko kanker prostat pada usia lanjut dengan mekanisme penurunan regulasi vitamin D aktif, peningkatan risiko untuk pembentukan batu saluran kemih akibat diet tinggi kalsium, dan potensi untuk toksisitas otot jantung terkait hiperkalsemia. Akan tetapi, hal-hal yang disebutkan itu merupakan hal-hal patologis yang sangat kompleks dan terjadi dengan predisposisi kondisi tertentu yang bersifat sangat individual. Jadi, banyak hal yang perlu ditelaah dan bisa dikritisi lagi mengenai pemberian tambahan asupan kalsium bagi para lansia. Salah satunya adalah usia terbaik untuk tambahan asupan kalsium ini diberikan agar tercapai tujuan maksimal yang diharapkan terkait pemeliharaan struktur dan fungsi tulang bila telah memasuki usia lanjut nantinya.